Perencanaan yang random, salahkah?

Bicara rutinitas yang menuntut kita agar bisa beriringan dengan waktu. Planning yang tertata sejak awal kadang sulit dikondisikan dengan realitanya. Selalu ada hal yang tak terduga, diluar dari rencana. Ditambah lagi dengan suasana hati yang sering dibilang moody.

Memang ada kalanya dimana kita merasa jenuh, lelah, malas. Bagi saya, seperti itulah siklusnya, alur yang akan selalu berbeda dari waktu ke waktu. Kita tidak akan pernah menjalani sesuatu dengan trek yang selalu mulus. Suatu saat pasti naluri yang akan menuntun kita menuju alur yang tidak diduga. Alam bawah sadar kita dituntun oleh sifat alamiah sebagai manusia. Tentang bagaimana bertahan hidup, seperti menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, mengubah rencana dengan sendirinya, berganti haluan dengan sendirinya, bergerak sesuai dengan cara kita seperti lepas dari ikatan. Ikatan yang dimaksud seperti bergerak diluar prosedur yang ada dalam ruang lingkup manapun. Lingkungan kantor, rumah serta lingkungan sekitar yang nantinya akan memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang sifatnya inovatif. Itu pasti akan terjadi, dalam skala kecil maupun besar lingkungan tersebut.

Untuk itulah kita diwajibkan berani keluar dari rute.

Mekanismenya sama seperti rencana yang berurutan. Hanya saja, kita dibawa untuk berpikir diluar alur yang ada lalu nantinya rencana lain akan dengan sendirinya terbongkar dan membuat rute baru dalam pikiran kita.

Saya punya pengalaman kecil…

Saya pernah mengikuti komunitas fotografi di tempat saya. Hanya sekedar ingin tahu cara kerja para seniman foto ini. Mulai dari membuat sebuah rentetan program, yang nantinya menjadi aktivitas rutin mereka. Anggaran biaya yang dikeluarkan setiap acara jika ada acara kolektif yang membutuhkan hal itu, merancang konsep foto, meluaskan jaringan dengan sebar pamflet, diskusi, kerjasama dengan komunitas lain sampai kepada bagaimana cara mereka memasarkan jasa mereka dalam bidang potret-memotret. Banyak hal yang terjadi dalam pembuatan acara yang tersusun sejak awal, dari budget, property, hingga sdm dalam suatu acara kolektif yang membutuhkan banyak seniman untuk hadir dan menyumbangkan karyanya. Jika keluar dari rencana sebelumnya, maka mereka harus sigap berpikir out of the box untuk menanggulangi gagalnya acara. Sekedar cerita, singkatnya mereka bisa menanggulanginya meski dengan ekstra tenaga dan pikiran terkuras demi lancarnya sebuah acara. Beda cerita jika rencana awal berjalan, mereka bisa menghemat waktu untuk santai karena tahapan acaranya sesuai dengan estimasi. Kondisi seperti ini dalam hidup sering terjadi, oleh karena itu mereka tetap menunjukkan sikap professional.

Sudah jelas bahwa sikap professional pun ada karena random-nya situasi yang terjadi pada saat itu. Bukan melulu masalah prosedural yang harus sesuai dengan tata aturan yang ada. Dengan catatan bahwa adanya prosedur yang bisa dilewatkan melalui negociate, ambil saja. Terkecuali memang ada hal yang sulit untuk dilewatkan dalam susunan aturannya, tinggalkan saja dengan tanpa mengurangi tanggung jawab yaitu mengerjakan apa yang bisa dijangkau terlebih dahulu.

Secara teori memang mudah, realitanya nanti kita akan dihadapkan pada sesuatu yang crush dan juga random. More complicated, dan tanpa basa-basi ya jalani saja.

Jadi, pada dasarnya. Tidak akan ada suatu rencana yang berjalan dengan mulus, jika anda melihat sebuah acara musik, gallery foto dan pertunjukan seni lainnya yang anda lihat sangat sempurna. Itu karena anda melihat semuanya sudah dalam keadaan matang. Itu karena mereka menggunakan plan A-Z, dan penggunaan plan A-Z akan selalu ada rencana yang tiba-tiba muncul guna mengisi kekurangan yang ada.

Life is random, so we have to make it perfect without complaining.

Beberapa kunci penting atas apa yang bisa kita dapatkan dari seni itu sendiri, saya cetak bold. Pun ada kaitannya dengan random.

Note :

*Rencanakan dan lakukan apapun tujuanmu jika itu baik, lalu biarkan nalurimu berkesenian

Seni yang fleksibel, hidup yang luwes

Seni, yang akan selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman atau kita yang berkembang dengan berbagai macam arus pengetahuan yang mengalir cepat?

Teknologi masa kini memang memiliki peran, apalagi seni kontemporer. Buah pemikiran para seniman modern tidak juga bisa disalahkan apabila ada suatu seni yang mem-budaya sejak dulu hingga kini – yang kemudian mereka modifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebuah warna baru. Memang ada pula yang tetap tidak melupakan pakemnya, dengan opini agar keaslian seni budaya tetap terjaga. Saya respect dengan kedua jenis pelaku seni seperti itu. Mereka mampu melakukan apa yang mereka inginkan dalam sebuah karya dengan jujur. Terlepas dari kebebasan berekspresi yang bablas itu bukan lagi menjadi urusan para seniman, toh pada hakekatnya jika burung tidak terbang bebas, maka hanya kicauannya saja yang terdengar. Secara suara memang didengar, tapi gerak yang dibatasi adalah bukan gaya hidup seniman – pun kalau memang ada seniman yang bisa dibatasi pemikirannya, maka bisa dipastikan ia melakukannya secara setengah-setengah.

Kitalah penentu seni, dibawa kemanapun ia tetaplah bernama seni meskipun dengan wujud yang berbeda. Konsepnya sama, menyuguhkan karya yang syukur-syukur bisa di apresiasi oleh para apresiator – bicara idealisme, hubungannya dengan pandangan masing-masing pelaku seni itu sendiri.

Mari kita kaitkan kebebasan berekspresi versi seni dan kebebasan berekspresi versi kehidupan.

Seni cenderung bebas, terlepas dari kita hidup di negara yang tidak sepenuhnya bebas. Sah-sah saja, lupakan masalah kebebasan berekspresi ini dan saya yakin seniman amat sangat fleksibel.

Versi hidup, dimana berbagai macam problema yang tak pelak menjadi bagian pelik bagi setiap individu manusia. Seberapa bebas kita bisa bergerak dengan keterbatasan? jawabannya tentu tidak mudah, jika tetap menggunakan cara yang sama ketika menghadapi masalah yang sama. Maka kuncinya ada di tulisan cetak miring dengan tambahan control bold, lihat lagi.

Antara seni dan hidup terkait satu sama lain. Jika seni adalah hidup maka ia bisa hidup melalui seni, jika hidup adalah seni maka hidupnya penuh dengan seni

Bingung? akan coba saya translate :

Jika seni adalah hidup maka ia bisa hidup melalui seni. Seni yang menjadi sumber kehidupannya, bisa melalui penghasilan yang ia terima dari karya yang ia telurkan, bisa pula sebagai kepuasan batin yang ia terima dari apresiator seperti pujian, ketenaran dan lain sebagainya. Seni yang ia telurkan ternyata menjual, lalu apa salahnya? sah-sah saja.

jika hidup adalah seni maka hidupnya penuh dengan seni. Sudah jelas bahwa segala tindak tanduknya dilakukan penuh dengan makna seni itu sendiri. Penuh dengan gerakan yang luwes, santai dan segala yang ia lakukan tidak terprediksi oleh orang lain.

Tarik saja garis kesimpulannya. Sama-sama menghidupi, sama-sama menguntungkan.

Dua kata yang sama antara fleksibel dan luwes. Dua hal yang keterkaitannya erat antara seni dan hidup. Lalu jika dua nilai itu menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja bagi pembaca sekalian. Maka bukan lagi itu menjadi urusan saya, pemahaman tiap-tiap individu berbeda, lalu biarkan saja berwarna-warni.

Taman depan rumah

Selamat hari senin..

Diulas minggu kemarin tentang ritme dan kaitannya dengan artikel dari blog lain yang memiliki pembahasan sama dengan bahasan saya. Terlepas dari pertanyaan saya tentang bagaimana cara mengaplikasikannya dalam dunia nyata (lihat bagian ritme). Itu menjadi Pe-Er bagi para pembaca dan biarkan itu menjadi urusan anda untuk mencari jawabannya.

Pelajari setiap halnya, lalu duduk dengan saya. Lewat Taman depan rumah…

Saya pernah mengikuti masa training kerja di sebuah perusahaan farmasi. Bertempat di Bogor, dengan segala fasilitas ditanggung oleh yang punya acara. Dengan kata lain saya mendapatkan tempat yang layak untuk beristirahat, makan terjamin dan yang paling saya suka ialah coffee break every morning. Waktu dimana saya bisa berdialog seru dengan peserta training lainnya. Waktu itu saya yang paling muda, peserta lain berumur matang dari segi pengalaman maupun pola pikir. Saya jelas terlihat paling amatir. Bagaimana tidak, lulus sekolah menengah keatas dengan bekal pemikiran dan jaringan yang masih disitu situ aja lalu dipaksa oleh alam untuk mengikuti kemauannya melalui alur hidup. Bahkan dalam berkomunikasi pun terbilang paling biasa.

Singkatnya, dari situ saya belajar seni lainnya. Seni yang membutuhkan networking, bukan semata kekuatan individual. Seni memperkenalkan diri saya kepada khalayak, seni berbincang meski sampai saat ini saya lebih suka mendengarkan, seni peran yang sifatnya kondisional seperti menempatkan diri sesuai dengan keadaan yang ada dan masih banyak lagi.

Seni ber-sosial ternyata membuat saya terbuai dan menikmatinya.

Sudah jelas bahwa

Seni ada dimana-mana. Tanpa kamu mencari pun ia tetap ada, hanya saja kamu tidak atau bahkan belum menyadarinya. Ini tentang bagaimana kamu mengaplikasikannya secara kontinyu.

Jangan tanyakan kepada saya apa manfaatnya

Motivation start from yourself

Bacalah sumber bacaan lainnya, akan lebih baik memiliki banyak referensi.

Sekarang beranjaklah dari taman depan rumah. Tempat yang nyaman itu hanya akan menjadi tempat melepas penatmu. Bukan menjadi rutinitasmu.

KECERDASAN DAN KARYA SENI

Sedikit gambaran dari blog ini. Keterkaitan antara seni yang mempengaruhi pola pikir manusia. Selera menjadi acuan tingkat kecerdasan otak.

UTOPHORIA

Tingkat intelektual otak manusia memang berbeda-beda. Untuk mengetahui kadar kecerdasan yang ada bisa dilihat melalui banyak hal, salah satunya adalah dengan karya seni. Sebagai contoh, orang dengan kecerdasan rendah akan menyukai drama dengan jalan cerita yang sederhana karena otak mereka tidak harus bekerja keras untuk mencernanya. Mereka tentu tidak bisa menikmati sebuah drama dengan plot yang rumit. Dikarenakan perbedaan kemampuan pencernaan otak inilah yang juga bisa memberi nilai suatu karya seni menjadi subjektif.

Saat ini, sinetron sinetron yang ditayangkan di televisi nasional merupakan kategori drama sederhana. Jalan cerita yang berjalanpun bisa diikuti dengan mudah tanpa perlu konsentrasi otak yang tinggi. Dan pada kenyataannya, masyarakat Indonesia sebagian besar menyenangi tayangan sinetron yang mempunyai kadar seni rendahan tersebut. Ini cukup berbeda dengan drama drama luar negeri yang ditayangkan di televisi kabel berlanggangan.

Sangat susah untuk menunjuk siapa yang salah pada kasus kebodohan sosial ini. Pihak televisi membutuhkan penonton setia, maka dari itu…

View original post 152 more words

Ritme

stakatowaktu. Seperti yang di jabarkan pada bagian “hentakan pertama”, saya tidak akan detail membahas segala jenis seni satu persatu. Hubungan dalam kehidupan serta pengaruhnya yang menjadi acuan saya. Jika pembaca mengira saya adalah ahli dalam hal seni, tentu salah. Saya pun bukan pure seniman (dalam artian saya tidak menjadi pelaku seni itu sendiri). Saya hanya menyukai berbagai macam seni yang saya artikan secara global, seni ialah suatu keindahan.

Singkatnya akan coba saya jelaskan tentang judul diatas…

Judul diatas pun sama dengan irama. Dimana ia bersifat dinamis (dalam seni musik). Tempo termasuk di dalam satu kesatuan dari ritme. Ritme dalam teknik melukispun bagi saya sama saja, bukan berarti menyamaratakan. Memang ada perbedaan di lain sisi, tetapi sifatnya bagi saya sama. Fungsinya menyelaraskan bentuk dari seni itu sendiri, apapun bentuk seninya.

Dalam musik ada attack and release. Dua bagian dari musik tersebut amat sangat berpengaruh dalam penerapannya. Attack jika diartikan ialah serangan, maksudnya adalah lebih kepada kesan pertama musik itu sendiri yang nantinya dapat menarik perhatian pendengar maupun penonton jika dalam sebuah konser.

Release jika diartikan ialah pelepasan. Maksudnya adalah ada bagian dimana sebuah musik dapat memiliki kesan tersendiri seperti sampainya pesan yang disisipkan melalui sebuah lagu. Bagian ending atau akhir yang pas, sesuai dengan isi cerita atau pesan didalamnya. Biasanya release ditandai dengan berubahnya tempo dalam lagu. Bisa melambat, bisa semakin tegas, bisa dengan teknik fade out seperti semakin lama lagu semakin menghilang perlahan-lahan.

Saya mengaplikasikan dua point itu demi membangun sesuatu yang lebih prinsipil. Keteguhan hati

Pertanyaannya adalah..

Bagaimana bisa mengaplikasikan dua point itu dalam kehidupan sehari-hari?

Monggo dipikirkan..

Hentakan Pertama (Art is..)

Seni. Segala hal yang berhubungan dengan keindahan, apik, unik, abstrak, kontemporer dan banyak lagi yang tersaji di seluruh dunia ini. Saya tidak melulu membahas seni secara utuh dalam pembuatan perdana situs saya. Lebih kepada bagaimana mengaplikasikan seni itu sendiri dalam segala lini kehidupan. Bagaimana seni amat sangat berpengaruh pada pola pikir, gaya hidup, rutinitas sehari-hari serta gerak tubuh kita dalam kehidupan. Art is everywhere, art is anywhere. Saya mendapatkan kata-kata itu ketika berselancar melalui google dengan keyword “ART IS”.

Positifnya adalah, keyword ini membuat saya terhentak seperti sedang memainkan alat musik yang saya sukai. Perlahan, terputus-putus, menghentak!!

Kemudian saya berniat untuk meng-aplikasi-kan bentuk dari seni yang saya suka menjadi alunan irama dalam kehidupan saya.

So, this is my first site. Come and visit my second home

Just wait my next posts..

Enjoy